| Melanglang Buana dengan Busana Rabu, 01/06/2011 | 11:10 WIB | ||||
Dian Wahyu Utami atau populer dengan nama Dian Pelangi masih berusia sangat belia. Namun karena karya busananya yang lain daripada yang lain, ia mampu menembus pasar luar negeri, suatu hal yang amat jarang bisa dilakukan oleh orang lain. Di usianya yang saat ini masih 20-an tahun, Dian Wahyu Utami sudah mampu mensejajarkan namanya dengan para perancang mode yang menjadi seniornya. “Saya enggak enak hati karena terkadang disejajarkan dengan perancang senior. Saya malah sempat down. Tapi, justru saya jadi semangat untuk membuktikan diri bahwa saya sanggup dan mempunyai kemampuan yang sama seperti anggota yang lain. Bagi saya, jika ingin dihargai kita harus menunjukkan, kita memang patut untuk dihargai,” ujar Dian. Nama Dian makin dikenal publik setelah ia mengikuti pagelaran peragaan busana di Melbourne, Australia, Mei 2009. “Fashion show (di Australia) itu merupakan yang pertama kalinya bagi saya,” ujar Dian. Setelah peragaan busana itu, Dian kemudian tampil dalam sebuah majalah muslim nasional. Majalah itu kebetulan bekerjasama dengan Kementrian Pariwisata untuk mengadakan fashion show di Autralia. Yang tidak disangka Dian, selain dirinya, ada perancang senior Iva Latifah yang juga diajak. “Saya benar-benar terkejut dan enggak menyangka, kok, saya yang junior ini diajak juga,” ujar Dian saat itu. Dian pun membawa 40 baju karyanya seorang diri ke Melbourne. Terbayang di benak Dian waktu itu betapa ribetnya membawa busana sendirian karena ia harus menyetrika busana itu sendirian dan memakaikannya ke para model. “Untungnya, saya ada kenalan di Melbourne, jadi bisa membantu saya menyiapkan busana-busana itu untuk dipamerkan,” ujar Dian. Karya Dian pun menarik minat media Australia, The Edge untuk mengadakan liputan. Sejak itulah beberapa butik di sejumlah kota di Australia, seperti Melbourne, Sidney dan Perth pun mulai memajang busana hasil rancangan perempuan yang hobi menyanyi tersebut. Menyusul peragaan busana di Australia, Dian kembali mengikuti fashion show yang digelar Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), pada Agustus 2009. Dian sendiri diminta orangtuanya untuk bergabung ke organisasi ini. “Alhamdulillah saya lolos dan menjadi anggota termuda, bahkan sampai sekarang saya masih menjadi anggota termuda di asosiasi itu,” ujar Dian. Setelah peragaan busana itu, Dian pun kembali mendapat ajakan Kementrian Perindustrian dan Perdagangan, pada Oktober 2009, untuk mengikuti pameran di Abu Dhabi. Dian menceritakan pengalaman unik yang mungkin juga dialami oleh pengusaha lainnya. Sebelum berangkat ke Abu Dhabi, ia pernah dibilangi oleh salah seorang perancang untuk tidak membawa batik. “Katanya karena susah lakunya. Ternyata enggak, tuh. Justru busana muslim bercorak batik yang saya bawa habis dibeli. Dari 50 potong yang saya bawa, sisanya tinggal 5 potong,” ujarnya. Dalam waktu berdekatan, Dian kembali ikut ambil bagian di Jakarta Fashion Week, November 2009. Rancangan busananya pun kembali mendapat tanggapan positif, bahkan semakin sangat luar biasa. “Semua orang saat itu membicarakan saya. Sampai masuk majalah di mana-mana. Padahal, saya enggak berharap seperti itu, benar-benar enggak menyangka,” ujarnya. Dari situ, koleksi Dian kemudian dilirik oleh Kementrian Pariwisata untuk dibawa ke London, Inggris, April 2010 dalam acara “Indonesia Is Remarkable di Harrods”. Rancangan Unik Busana rancangan Dian memang lain daripada yang lain. Dengan merek yang memakai namanya sendiri, Dian Pelangi mengambil corak jumputan yang sangat khas, dengan sentuhan rancangan yang tidak pasaran meskipun kain jumputan bukan hal baru. Meski karya Dian Pelangi menggunakan kain jumputan, ia justru berhasil menciptakan trend mode. Melalu tangan terampil Dian, kain jumputan terkesan bernuansa etnik dan menggunakan warna-warna shocking. Ini lah yang menjadi kunci keberhasilan Dian menggunakan kain jumputan. Dian mengatakan, selain desain, ia mengaku tak mau membandrol busana rancangannya dengan harga selangit. “Makanya banyak yang mengajak saya kerjasama untuk menjual kembali di tokonya,” ujarnya. Dia mengatakan, ada tiga koleksi hasil rancangannya, yaitu Mass Production, dibandrol harga sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 800 ribu, Special Collection berkisar Rp 1 juta sampai Rp 3,5 juta dan Private Collection dihargai di kisaran Rp 2 juta sampai Rp 5 juta-an. Keunikan lainnya dibandingkan dengan perancang busana lainnya, Dian juga sekaligus memroduksi sendiri kain yang digunakan dalam desainnya. “Bukan hanya desain, marketing dan promosi saya lakukan sendiri. Bahkan, mulai dari benang hingga jadi busana siap pakai, semua saya lakukan sendiri. Kebetulan keluarga saya memiliki pabrik tekstil di Pekalongan, Jawa Tengah. Jadi, kalau ada pelanggan yang ingin mendesain corak busana sendiri, saya bisa membantu,” ujar Dian. Dian menceritakan, sebenarnya yang memulai ini semua adalah orangtua. “Saya hanya meneruskan saja,” ujar Dian. Ia mengatakan, orangtua Dian memulai usahanya dari nol, mulai dari menjumput, membatik sampai mewarnai. Jumlah karyawan yang awalnya hanya 5 orang, berkembang hingga 350 orang karyawan dalam waktu 17 tahun. Termasuk beberapa butik yang digunakan untuk memajang hasil karya Dian merupakan milik orangtuanya. “Butik ini pun sebenarnya sudah disiapkan oleh orangtua, makanya dinamakan Dian Pelangi,” ujar Dian. Sudah suka menggambar baju sejak kecil, Dian sudah terbiasa medesain bajunya sendiri. Bahkan kalau ingin baju baru, ibunya selalu menyuruhnya untuk mendesain sendiri baju yang diinginkan. Lulus SMP, ia masuk SMKN 1 Jurusan Tata Busana di Pekalongan. Kebetulan saat itu bersamaan dengan kepindahan orangtua ke Pekalongan untuk membuka pabrik tekstil. Lulus SMK, ia pun mulai diberi tanggung jawab meneruskan butik Dian Pelangi di Jakarta. Padahal, waktu itu umurnya masih 16 tahun. Di Jakarta, Dian semakin serius menekuni dunia fashion. Saya lalu kuliah di sekolah mode ESMOD selama setahun. Kini Dian telah memiliki outlet di beberapa kota besar di antaranya Palembang, Medan, Jakarta, bahkan Surabaya dan Pekan Baru. Untuk di Asia, Dian telah membuka outlet di Malaysia. Dian mengatakan prospek busana muslim ke depan sangat tinggi, bahkan bisa mendorong penjualan aneka pernik dan aksesori yang dibutuhkan wanita muslim (muslimah). "Bagi saya, pasar busana muslim sudah maju pesat. Coba tengok dengan semakin banyaknya blogger yang mem-posting tren hijab style yang mendapat respon luar biasa dari remaja muslim, mereka tertarik untuk mengikuti. Kemudian, kini online shopping aksesori seperti peniti hingga dalaman kerudung omzetnya bisa berlipat ganda. Ditambah lagi, label Swarovski sampai harus mencari desainer yang bisa membuat aksesori khusus bagi wanita muslim karena wanita di Timur Tengah masih gemar mengenakan aksesori yang bling-bling," paparnya. "Mode busana muslimah lebih kepada styling bukan desain, sehingga lebih banyak pernak-pernik yang harus dibeli dan itu sangat positif," tutup Dian. faz | ||||
Tulisan ini sengaja saya share dari pengalaman pribadi. Pekerjaan sehari-hari saya adalah MC, Sales, Marketing dan PR, jadi sudah jadi menu wajib untuk menulis jurnal harian saya. Semoga bermanfaat bagi yang membacanya
Jumat, 10 Juni 2011
Inspirasi Remaja
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar